METRO BAUBAU
BAUBAU-Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menyumbang Rp 15 juta untuk pembangunan Masjid Al-Ikhlas. Bantuan Tersebut diberikan langsung Walikota Baubau, MZ Amirul Tamim.
BUTON RAYA
PASARWAJO-Tahun ini Program Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) atau Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi di Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Buton,
Website Fajar
EKONOMI & BISNIS
Baubau-Ereke Masih Putus
BURANGA-Meski kondisi jalan Maligano-Ereke rusak parah, namun akses tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Hal ini telah dibuktikan oleh Nurli, warga Kabupaten Muna yang memilih jalur darat ke Ereke menggunakan sepeda motornya, Minggu (29/8).
Website Fajar
OPINI
(Suatu Kebutuhan atau Keinginan)
Oleh : La Ode Muh Anzal Dalam media ini juga edisi (Juma’t 30 Juli 2010) kepala dinas kesehatan Kabupaten Wakatobi telah mengangkat 81 tenaga honor dengan kualifikasi tamatan SMU/sederajat untuk dimagangkan
IKLAN / SIRKULASI
Jalan : Teuku Umar No.3 Baubau
Telp : (0420)2826686
Faks : (0420)2826556
  HALAMAN UTAMA
Kamis, 29 Jul 2010, | 27
Biaya Tinggi, Angka Putus Sekolah Tinggi
JAKARTA -- Tingginya biaya pendidikan di Indonesia membuat angka putus sekolah juga turut terdongkrak naik, bahkan jumlahnya banyak ditemukan di jenjang usia wajib belajar 9 tahun. Kehadiran SMP Terbuka diharapkan dapat menjadi salah satu alternatife untuk mengatasi masalah tersebut.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan bahwa anak putus sekolah pada usia wajib belajar masih tinggi. Suyanto menyebutkan, hingga kini tercatat sebanyak 244.138 anak usia 12-15 tahun tidak sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Ditambahkannya, biaya pendidikan setiap tahunnya semakin melambung, menjadi salah satu penyebabnya. “Tingginya angka putus sekolah ini karena pendidikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadi layanan yang mahal,” kata Suyanto di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Selasa (27/7). Sementara pelaksanaan program wajib belajar sembilan tahun yang dimulai sejak tahun pelajaran 1993/1994 pada tahun 2009/2010 yang baru berakhir, lanjut Suyanto, mencapai angka partisipasi kasar (APK) sebesar 12.698.262 orang atau rata-rata nasional sebesar 98,11 persen.

Menanggapi adanya data tersebut, Kemendiknas berdalih siswa yang belum terjangkau pendidikan itu lebih banyak disebabkan karena kendala ekonomi. Selain faktor ekonomi, Kemdiknas juga menemukan fakta bahwa yang menjadi pemicu putus sekolah anak-anak di Indonesia adalah akses transportasi, letak geografis, dan lokasi yang sangat terpencil, sehingga sulit mengakses pendidikan, juga alasan membantu orangtua bekerja.

“Oleh karena itu, siswa dengan alasan tersebut belum dapat mengikuti pendidikan di SMP atau MTs reguler, meski tempatnya telah tersedia,” ujarnya. Untuk itu, Kemendiknas menurut Suyanto saat ini tengah menggencarkan persebaran SMP terbuka di seluruh Indonesia. Dengan adanya SMP terbuka ini, diharapkan persoalan siswa yang belum tertampung pendidikan tersebar di pedalaman, pulau-pulau terpencil, dan kota-kota besar di penjuru tanah air dapat teratasi. “Dengan begitu, saat ini, tercatat ada sekitar 248.432 anak yang tercatat mengikuti pendidikan di SMP terbuka,” pungkasnya. (cha/jpnn)