METRO BAUBAU
BAUBAU-Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menyumbang Rp 15 juta untuk pembangunan Masjid Al-Ikhlas. Bantuan Tersebut diberikan langsung Walikota Baubau, MZ Amirul Tamim.
BUTON RAYA
PASARWAJO-Tahun ini Program Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) atau Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi di Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Buton,
Website Fajar
EKONOMI & BISNIS
Baubau-Ereke Masih Putus
BURANGA-Meski kondisi jalan Maligano-Ereke rusak parah, namun akses tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Hal ini telah dibuktikan oleh Nurli, warga Kabupaten Muna yang memilih jalur darat ke Ereke menggunakan sepeda motornya, Minggu (29/8).
Website Fajar
OPINI
(Suatu Kebutuhan atau Keinginan)
Oleh : La Ode Muh Anzal Dalam media ini juga edisi (Juma’t 30 Juli 2010) kepala dinas kesehatan Kabupaten Wakatobi telah mengangkat 81 tenaga honor dengan kualifikasi tamatan SMU/sederajat untuk dimagangkan
IKLAN / SIRKULASI
Jalan : Teuku Umar No.3 Baubau
Telp : (0420)2826686
Faks : (0420)2826556
  INTERNASIONAL
Senin, 19 Jul 2010, | 93
Potongan Kapal Abad ke-18 di WTC Diteliti
NEW YORK - Para pekerja konstruksi di situs atau kawasan ground zero World Trade Center (WTC) di New York, saat ini tengah disibukkan dengan sebuah agenda kerja tambahan. Pekerjaan tersebut adalah membersihkan dan berupaya mengeluarkan potongan bangkai kapal yang diyakini berasal dari abad ke-16, dari areal tersebut untuk diteliti lebih jauh.

Artefak berupa potongan hull (bagian dasar kapal) sepanjang kurang lebih 32 kaki atau hampir 10 meter itu, diduga merupakan bagian dari kapal yang dulunya digunakan dalam transportasi antara Sungai Hudson dan kawasan Manhattan (dekat lokasi WTC). "Diharapkan artefak ini sudah dapat diangkat hari ini," ungkap arkeolog Molly McDonald, Kamis (15/7) waktu setempat, sebagaimana dirilis AP, Jumat (16/7) pagi WIB.

McDonald sekaligus menyampaikan bahwa seorang pakar perkapalan berencana memeriksanya segera. Ia sendiri menyebutkan berharap dapat menyelamatkan sejumlah kayu dari potongan kapal itu, meski sejauh ini belum pasti apakah bagian besar dari temuan itu masih bisa diangkat tanpa harus rontok (hancur).

"Kami rata-rata membersihkannya menggunakan tangan, karena tampaknya agak rapuh," ucap McDonald sehari sebelumnya. Meski demikian, beberapa peralatan konstruksi belakangan bisa digunakan untuk membantu membersihkan dan melepas potongan kapal itu dari lokasi dengan kedalaman sekitar 6 meter dari permukaan tanah tersebut.

McDonald dan rekan arkeolognya yang lain, A Michael Pappalardo, kebetulan tengah berada di lokasi pusat peristiwa aksi teroris 11 September 2001 itu, ketika temuan tersebut muncul pada Selasa pagi waktu setempat. "Kami memperhatikan ada kayu balok melengkung yang terangkat oleh sebuah ekskavator," tutur McDonald tentang penemuan itu.

"Kami lantas segera bisa menemukan potongan struktur tulang dari sebuah kapal, serta terus membersihkan sekelilingnya hingga memunculkan potongan bagian dasar kapal ini dalam dua hari terakhir," lanjutnya menjelaskan.

Kedua arkeolog itu sendiri bekerja untuk AKRF, sebuah perusahaan yang disewa untuk mendomkumentasikan artefak yang kemungkinan ditemukan di lokasi tersebut. Mereka pun menyebut bahwa penemuan potongan kapal ini signifikan dan penting artinya, kendati studi lebih lanjut masih dibutuhkan untuk memastikan usia dari kapal tersebut.

"Kami akan mengirimkan contoh-contoh kayunya ke sebuah laboratorium, untuk melakukan kajian dendrokronologi, yang akan sangat membantu kami memperkirakan kapan kapal ini dibuat," tambah McDonald. Dendrokronologi sendiri merupakan sebuah cabang ilmu yang menggunakan patokan tiga garis melingkar pada penampang kayu untuk menentukan usia dan urutan perkembangan objek tersebut.

Sementara itu, sebuah jangkar seberat kurang lebih 100 pound atau sekitar 45 kg, juga ditemukan tak berapa jauh dari potongan bagian dasar kapal itu, Rabu (14/7) lalu waktu setempat. Namun begitu, seperti dikatakan McDonald, mereka tidak yakin apakah jangkar tersebut merupakan bagian dari kapal yang potongannya ditemukan itu. "Lebarnya (jangkar itu) kira-kira 3 sampai 4 kaki," kata McDonald pula.

Tim arkeolog itu kini tengah berupaya keras sambil berkejaran dengan waktu, untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya data dan hasil analisa dari potongan kapal tersebut, sebelum kayu-kayunya yang rapuh segera hancur - karena kini telah berada di udara terbuka. "Saya (juga) selalu terpikir betapa nyarisnya temuan ini hancur begitu saja," ucap Pappalardo pula. (ito/jpnn)