METRO BAUBAU
BAUBAU-Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menyumbang Rp 15 juta untuk pembangunan Masjid Al-Ikhlas. Bantuan Tersebut diberikan langsung Walikota Baubau, MZ Amirul Tamim.
BUTON RAYA
PASARWAJO-Tahun ini Program Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) atau Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi di Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Buton,
Website Fajar
EKONOMI & BISNIS
Baubau-Ereke Masih Putus
BURANGA-Meski kondisi jalan Maligano-Ereke rusak parah, namun akses tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Hal ini telah dibuktikan oleh Nurli, warga Kabupaten Muna yang memilih jalur darat ke Ereke menggunakan sepeda motornya, Minggu (29/8).
Website Fajar
OPINI
(Suatu Kebutuhan atau Keinginan)
Oleh : La Ode Muh Anzal Dalam media ini juga edisi (Juma’t 30 Juli 2010) kepala dinas kesehatan Kabupaten Wakatobi telah mengangkat 81 tenaga honor dengan kualifikasi tamatan SMU/sederajat untuk dimagangkan
IKLAN / SIRKULASI
Jalan : Teuku Umar No.3 Baubau
Telp : (0420)2826686
Faks : (0420)2826556
  OPINI
Kamis, 11 Mar 2010, | 192
Sudah Siapkah Menghadapi UN
Oleh : La Ode Firima, S.Pd SELURUH komponen bangsa sebaiknya dapat mengajak para siswa sebagai bakal calon pelanjut pembangunan ke depan jangan terlalu fokus mengikuti perjalanan kasus nasional (century) dengan high cost, dan banyak menguras enegi, para wakil rakayat dalam menyikapi kasus century melalui sidang paripurna bermula dengan penutupan sidang secara sepihak oleh pimpinan sidang, banyak kalangan menilai sama sekali tidak memperi pembelajaran yang baik terhadap bangsa ini bahkan melalui saluran televisi di depan masyarakatnya dan masyarakat dunia nyaris tawuran seperti tawuran pelajar dan apapun alasannya mereka telah mempermalukan diri di depan publik, mungkinkah itu dapat difahami bahwa mereka juga adalah manusia biasa yang penuh dengan keihlafan ? Persoalannya, dinamika buruk seperti itu bukan pertama kali terjadi di institusi itu walaupun dalam angkatan dan fase yang berbeda.

Yang harus menjadi kekhawatiran kita jangan sampai generasi muda yang masih berkecimpung dalam dunia pendidikan saat ini terutama mereka yang sedang menghadapi UN boleh jadi akan mewarisi dinamika seperti itu, masalahnya dan bila diamati ternyata kebanyakan cucu adam lebih mudah mengikuti dan mempraktekan keburukan, ketimbang mencontoh dan mengaplikasikan kebenaran dalam hidupnya. Padahal harapan bangsa bukan seperti itu, tetapi generasi muda yang saat ini sedang menghadapi UN sangat diharapkan harus lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya, dan ini merupakan tanggungjawab seluruh komponen bangsa.

Jauh lebih penting dari kasus century generasi muda bangsa ini, khususnya siswa kelas III sebagai harapan bangsa yang akan datang harus dianjurkan untuk lebih konsentrasi pada Ujian Nasional (UN). Pelaksanaan UN tingkat SMA tinggal menghitung hari, dan sesudahnya secara berangsur akan didikuti oleh tingkat sekolah lanjutan dan SD, mungkinkah ini UN terakhir di tanah air, waulaahul alam, masalahnya walaupun ada pihak-pihak tertentu yang sudah tidak menghendaki Ujian Nasional (UN), bahkan telah diajukan keberatan ke MA, oleh orangtua siswa peserta ujian yang gagal dalam UN tahun pelajaran 2008/2009, namun pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional tetap menyelenggarakan UN pada 2010 ini dengan berbagai perbaikan dan penyempurnaan seperti adanya ujian ulangan.

Dan tentu, lagi-lagi ini dalam rangka mengukur daya serap siswa terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah sekaligus dapat mengetahui kualitas pendidikan selama tiga tahun bergelut dalam dunia pendidikan, walaupun secara jujur untuk mengukur kualitas pendidkan secara nasional melalui UN tidak memenuhi standar keadilan karena fasilitas dan sarana pendidikan pada setiap daerah di Indonesia cukup beragam (tidak sama). Okey kalau di jantung kota Propinsi, kabupaten maupun kota misalnya, fasilitas pendidikan paling tidak sudah mendekati dan sesuai harapan, tetapi yang menjadi persoalan adalah sekolah-sekolah yang berada di pelosok-pelosok, jangankan buku-buku pelajaran, komputer, internet sebagai sarana pendukung, listrik saja sudah sangat susah.

Tetapi ini bukan satu-satunya alasan seorang siswa harus gagal dalam menempuh UN, kalau menengok ke belakangan ternyata masih banyak siswa yang tingggalnya di pedalaman tapi sukses dalam menempuh UN, dalam hal ini tentu dipent on the students theirself dan pasti dengan dukungan para pendidik di wilayah itu dan bila dicermati persoalan yang sering terjadi adalah adanya segelintir siswa yang mengidap penyakit want but unwilling, ingin tapi tidak mau, maksudnya ingin lulus ujian tapi tidak mau belajar. Sebagai indikasi dari itu misalnya ketika ada jadwal tambahan belajar yang akrab dengan sebutan “Pengayaan “ sejumlah siswa selalu terlambat bahkan enggan untuk ikut dalam program itu, sedikit sekali menyiapkan materi ujian untuk dijadikan bahan kajian di rumah dan atau bisa dibahas dengan teman atau dengan guru bidang studi bahkan disuruh fotokopi materi pun tidak proaktif dan terkesan acuh, sementara atas kebijakan Mendiknas tersebut peserta UN tidak ada alasan untuk tidak siap, termasuk seluruh stakeholder pendidikan harus mensukseskaan UN.

Untuk mendukung kesuksesan UN beberapa hal yang telah dilakukan oleh pihak sekolah antara lain menyelenggarakan pengayaan terhadap siswa peserta ujian dengan tujuan dapat memperkaya dan menambah pengetahuan siswa dengan maksud agar dapat menjawab soal-soal UN dengan mulus, sehingga anak yang bersangkutan khususnya siswa kelas III SLTA tidak tertunda perjalanan nasibnya dan dapat menjalani cita-cita sesuai programnya, yakni dapat melanjutkan studi sesuai disiplin ilmu yang diminatinya sebagai persiapan sejak dia menggeluti pendidikan. Menyelenggarakan try out dengan system LJK sebagai rangkaian untuk membiasakan mereka menjawab melalui Lembaran Jawaban Komputer (LJK) dan hasilnya dapat dijadikan tolak ukur kesiapan siswa dalam menghadapi UN. Bagi mereka yang telah memperoleh nilai yang cukup baik maupun nilai sedang dapat dijadikan motivasi dan selalu dimotivasi untuk lebih inten lagi mempersiapkan diri dalam menghadapi UN.

Kalau dibayangkan, sebagai prajurit dalam menghadapi perang, secara fisik maupun secara mental harus mempersiapkan diri terlebih dahulu agar pada saat terjun di medan perang tidak kaget dan adem-adem saja dalam menghadapi musuh. Demikian pula dengan siswa yang menghadapi UN harus memperbanyak peluru dengan ilmu pengetahuan sehingga bisa lulus, bahkan ketika ada pertanyaan yang ditujukan kepada para peserta UN, “sudah siapkah menghadapi UN ?” Bagi siswa yang berwawasan tinggi dan berorientasi masa depan bukan sekedar untuk memperoleh ijasa, tanpa basah basi jawabannya pasti sudah siap. Berbeda halnya dengan siswa yang berorientasi lain pasti ragu-ragu, atau bisa juga di bibir menyatakan diri siap, tapi hakekatnya ia tidak siap. Tergantung sudah sejauh mana mereka telah mengolah dan mengulangi materi mata pelajaran selama menjalani pendidikan, misalnya ia telah mempelajari bentuk-bentuk soal dalam buku detik-detik ujian nasional, telah mengulas soal-soal ujian nasional tahun sebelumnya, termasuk soal-soal yang diperoleh melalui internet atau buku yang bisa dibeli di toko buku terdekat di kota mereka.

Kalau peserta UN sudah melakukan semua itu, selanjutnya berdoa dan mengharapkan ridhanya, itulah yang disebut dengan ikhtiar dan doa, dan pada gilirannya apapun hasil yang diperoleh harus diterima dengan lapang dada. Katakan harus ada yang tertunda nasibnya, memang dalam perang harus ada yang menang dan ada yang kalah, dalam UN pun ada yang L dan TL, lulus dan atau tidak lulus. Siapa yang menanam pasti memetik hasilnya, siapa yang belajar hampir dipastikan bisa lulus UN dan saat UN paling tidak dia tenang dan percaya diri. Sebaliknya siswa atau peserta UN yang acak-acakan sebenarnya dia tidak siap menghadapi ujian dengan ciri tidak percaya diri, merasa cemas saat UN berlangsung, mungkin saja lehernya bisa panjang dan matanya menjadi juling hendak melirik jawaban dari teman dan pada gilirannya secara kebetulan pada waktu pengumuman kelulusan ternyata ia lulus dia lebih gila lagi, sorak-sorakkannya dan teriakannya lebih heboh dari yang lain, melakukan coret-coretan serta arak-arakan di jalan dan lain sebagainya, tidak perduli menari dan bersuka ria di atas kesedihan mereka yang tidak lulus.

Kalau mau jujur pada setiap kali penyelenggaraan ujian, banyak peserta ujian kemungkinan tidak siap dalam menghadapi setiap UN sehingga tidak heran pada setiap tahun pengumuman siaran televisi diramaikan oleh rontakan dan amukan peserta ujian yang gagal, dan pada UN tahun ini yang tinggal beberapa hari lagi, jangan sampai kejadian- kejadian seperti itu masih terjadi, walaupun ada yang namanya ujian ulang (repeat examination) tidak berarti itu bermaksud untuk meluluskan bagi mereka yang tidak lulus pada ujian utama, sama sekali tidak, tapi repeat examination bertujuan untuk mengakomodasi kepentingan peserta ujian yang pada ujian utama kemungkinan sedang terjadi gangguan kesehatan dan mungkin juga ada factor X dan lain-lain, tetapi berapa kalipun peserta UN akan mengikuti ujian kalau memang dia tidak siap dan tidak mempersiapkan diri toh juga sangat sulit untiuk dipastikan dapat berhasil dalam menempuh ujian.

Dalam sebuah anjuran, Never put off till tomorrow what you can do today, jangan kamu tunda sampai besok apa yang bisa dilakukan hari ini. Betapa anjuran ini sangat mulia dan apabila dapat diimplementasikan dalam hidup sehari-hari kita percaya siapapun dia pasti beerhasil. Penyakit penundaan waktu ini merupakan penyakit yang melanda hampir setiap insan, dan yang bersangkutan tak terkecuali siswa tidak menyadari dirinya telah menunda waktu untuk belajar, dan ini sangat disayangkan, terkadang banyak waktu yang digunakan untuk hal lain yang tidak bermanfaat misalnya harus menghabiskan waktu untuk mejeng, mengikuti kegiatan-kegiatan ekstra yang tidak berkenaan dan sebagainya. Dan sebagai akhir dari dari tulisan ini penulis berpesan kepada setiap peserta UN untuk mempersiapkan diri dalam mengahadapi UN tanpa menunda waktu dengan tetap mereview pelajaran-pelajaran yang telah diberikan, dapat menghindari dan menahan diri untuk tidak beraktivitas yang berpotensi dapat menghambat keikutsertaannya dalam UN nanti, Semoga sukses!

Penulis : Guru SMA Negeri 1 Bau-Bau