
PEMILU parlemen Iraq berlangsung kemarin (7/3). Meski ledakan mengguncang sejumlah tempat, antusiasme warga negeri tetangga Iran tersebut tetap tinggi untuk menggunakan hak pilih. Sayang, nyawa sekitar 24 warga ibu kota Baghdad harus melayang karena serangkaian serangan mortir.
Tiga di antara sekitar 30 ledakan mortir itu terjadi di kawasan internasional Green Zone, Baghdad, yang dijaga ketat oleh petugas. Namun, dilaporkan, tidak ada korban jiwa di kompleks gedung pemerintah Iraq dan Kedutaan AS tersebut. Satu lainnya meledak di wilayah Ur yang terletak di sebelah timur laut Baghdad. Sedikitnya 12 orang tewas dalam insiden tersebut.
"Sebagian di antaranya tewas karena tertimpa bangunan yang runtuh akibat ledakan," ujar seorang petugas medis kepada Associated Press.
Sedangkan ledakan dua mortir lain di dua wilayah berbeda di sebelah barat Baghdad menewaskan sedikitnya tujuh orang. Di kawasan Azamiyah yang didominasi kaum Sunni, ledakan mortir tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Tapi, sejumlah warga terluka. Total, 60 warga Baghdad terluka akibat teror mortir itu.
Perdana Menteri (PM) Nuri al-Maliki yakin, serangkaian teror yang terus ditebar sepekan terakhir tidak akan pernah membuat warga Iraq takut. "Tekad rakyat Iraq untuk menyukseskan pemilu ini begitu besar. Jadi, mereka tidak akan terpengaruh oleh teror apa pun," tegasnya sesaat setelah mencoblos di tempat pemungutan suara (TPS) Green Zone kemarin.
Bukti antusiasme itu memang bisa terlihat di Green Zone. Sebelum TPS dibuka pukul 07.00 waktu setempat (sekitar pukul 11.00 WIB), ribuan warga sudah antre. Menurut CNN, dalam pemilu parlemen kali ini, pemerintah menyediakan sekitar 47.000 TPS di seantero negeri. Setiap TPS mampu menampung maksimal 420 pemilih.
Sebanyak 18,9 juta pemilih Iraq yang sah diberi kesempatan untuk memilih 325 anggota parlemen nasional sebelum TPS tutup pukul 17.00 waktu setempat (sekitar pukul 21.00 WIB).
Pemungutan suara kemarin menjadi pemilu parlemen pertama Iraq yang mengaplikasikan sistem open list. Tidak kurang dari 6.200 kandidat bersaing untuk memperoleh dukungan terbanyak. "Sesuai dengan sistem ini, warga memilih partai politik (parpol) atau kandidat tertentu yang namanya tercantum dalam kolom parpol tersebut," terang Misi Pendampingan PBB dalam pernyataan resminya.
Untuk memperlancar pencoblosan dengan sistem baru tersebut, PBB harus lebih dulu melatih warga Iraq yang ditunjuk menjadi petugas di TPS. Jumlahnya mencapai 300.000 orang. Kemarin para petugas terlatih yang terdiri atas guru, pengacara, dan kepala sekolah itu disebar ke seluruh TPS. Tidak kurang dari 494.000 pengawas lokal dan internasional juga diterjunkan ke TPS-TPS yang ada.
Begitu TPS ditutup, para petugas akan langsung menghitung suara yang terkumpul. Tentunya, di bawah pantauan ketat para pengawas pemilu. Penghitungan suara di setiap TPS akan dilakukan dua kali untuk menjaga akurasi. Jumlah kertas suara yang terpakai pun akan dikonfirmasikan dengan jumlah kertas suara yang dikirim ke TPS bersangkutan. Jika jumlahnya berbeda, TPS terkait harus diaudit.
"Perolehan suara baru bisa diumumkan paling cepat Rabu lusa (10/3)," terang Misi Pendampingan PBB.
Demi kelancaran pemilu, Presiden Jalal Talabani dan jajaran pemerintahannya melipatgandakan keamanan selama sepekan terakhir. Sejak Senin (1/3), tidak ada satu sepeda motor atau sepeda pun yang boleh melintasi Baghdad. Mulai kemarin, selama dua hari, larangan melintas diterapkan untuk segala bentuk kendaraan. Tiap perbatasan antarprovinsi pun ditutup sejak Sabtu (6/3). (hep/ttg)