
HUBUNGAN Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin tegang. Itu terjadi setelah Negeri Paman Sam tersebut meng-upgrade sistem pertahanan antirudalnya di seberang pesisir pantai Negeri Mullah itu. Tepatnya di Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Teheran pun langsung melayangkan protes kemarin (2/2).
Ketua Parlemen Iran Ali Larijani menyebut strategi militer AS itu bermuatan politik. "Negara-negara di kawasan regional (Teluk) harus memahami permainan boneka AS ini," ujarnya di hadapan parlemen seperti dikutip Associated Press.
Dia tidak yakin, pemerintahan Presiden Barack Obama benar-benar hanya ingin ikut menciptakan stabilitas militer di kawasan Teluk seperti yang disampaikan dalam pernyataan resmi. Apalagi, lanjut Larijani, pembaruan sistem pertahanan rudal Patriot tersebut dilakukan secara diam-diam.
Dia yakin, Washington punya maksud tertentu di balik penerapan strategi baru itu. Salah satunya, menggertak Iran dengan pamer kekuatan militer. "Semua ini hanya akan mendatangkan masalah baru bagi pasukan AS," tandas diplomat 52 tahun tersebut.
Pekan lalu, seorang pejabat militer AS yang tidak disebutkan identitasnya mengatakan bahwa Angkatan Laut (AL) mereka telah melipatgandakan kemampuan serang armada kapalnya. Kini, lanjutnya, kapal-kapal AS, terutama yang disiagakan di kawasan Teluk, bukan hanya mampu menembak jatuh pesawat. Namun, juga membidik rudal-rudal yang diangkut pesawat musuh.
Akhir Januari lalu, Komandan Komando Pusat AS di Timur Tengah Jenderal David Petraeus juga membeberkan rencana senada. "Salah satu elemen dalam strategi pertahanan di Teluk adalah meningkatkan kemampuan sistem rudal Patriot," paparnya dalam sebuah pidato di Georgetown Law School.
Saat ini, lanjut Petraeus, AS memiliki delapan rudal Patriot di kawasan Teluk. Masing-masing dua rudal di UEA, Kuwait, Bahrain, dan Qatar. AS sengaja meningkatkan pertahanan militernya di kawasan Teluk menjelang dijatuhkannya sanksi baru terhadap Iran terkait dengan program nuklir Negeri Persia tersebut.
Konon, fakta bahwa Iran memiliki sejumlah rudal dengan daya jelajah mencapai 2.000 meter itulah yang membuat negeri adidaya tersebut kebakaran jenggot dan melipatgandakan kekuatan militernya. Apalagi, rudal canggih Iran itu mampu menarget Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk.
Larijani menambahkan, Iran bukan negara yang suka berperang atau menebar teror. "Kapan Iran pernah menyerang negara-negara tetangga atau negara-negara lain di kawasan ini selama 31 tahun terakhir?" ungkapnya mengacu kepada konflik senjata dengan Iraq pada 1980-1988. Saat itu, Iran terlibat perang karena diserang terlebih dahulu oleh pasukan mendiang Presiden Iraq Saddam Hussein.
Terpisah, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ramin Mehmanparast menyebut strategi AS meningkatkan kemampuan sistem pertahanannya itu sebagai tindakan sia-sia. "Ini tidak akan memengaruhi hubungan baik Iran dengan negara-negara lain di kawasan regional," ungkapnya dalam jumpa pers di Teheran kemarin.
Tapi, sejumlah analis Barat meyakini sebaliknya. Yakni, hubungan Iran dan negara-negara tetangga menegang seiring dengan memburuknya hubungan Teheran dengan Washington. Opsi perang pun tetap ada. "Iran jelas tidak akan melihat penerapan strategi ini sebagai hal yang positif. AS sengaja menggerakkan negara-negara tetangga untuk menekan Iran," kata Anous Ehteshami, pakar Iran dan Teluk di Durham University, Inggris, dalam wawancara telepon dengan Agence France-Presse. (hep/ttg)