METRO BAUBAU
BAUBAU-Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menyumbang Rp 15 juta untuk pembangunan Masjid Al-Ikhlas. Bantuan Tersebut diberikan langsung Walikota Baubau, MZ Amirul Tamim.
BUTON RAYA
PASARWAJO-Tahun ini Program Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) atau Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi di Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Buton,
Website Fajar
EKONOMI & BISNIS
Baubau-Ereke Masih Putus
BURANGA-Meski kondisi jalan Maligano-Ereke rusak parah, namun akses tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Hal ini telah dibuktikan oleh Nurli, warga Kabupaten Muna yang memilih jalur darat ke Ereke menggunakan sepeda motornya, Minggu (29/8).
Website Fajar
OPINI
(Suatu Kebutuhan atau Keinginan)
Oleh : La Ode Muh Anzal Dalam media ini juga edisi (Juma’t 30 Juli 2010) kepala dinas kesehatan Kabupaten Wakatobi telah mengangkat 81 tenaga honor dengan kualifikasi tamatan SMU/sederajat untuk dimagangkan
IKLAN / SIRKULASI
Jalan : Teuku Umar No.3 Baubau
Telp : (0420)2826686
Faks : (0420)2826556
  INTERNASIONAL
Selasa, 02 Feb 2010, | 64
Pangkalan AS Tiupkan Kebencian
KALAU saja Amerika Serikat mau mendengar kesedihan Adachi Nako, barangkali negeri yang dipimpin Barack Obama itu bakal tergerak mendengar suara hati warga Okinawa untuk menutup pangkalan militer mereka disana. Dan bukannya malah mendesak relokasi dari Ginowan ke Nago yang sama-sama terletak di pulau di selatan Jepang tersebut.

Nako, seorang sarjana perempuan jebolan Universitas Internasional Okinawa, sejak 2005 tiap 13 Agustus hanya bisa menangis di hadapan pagar kawat yang mengelilingi Pangkalan Militer AS Futenma di Ginowan. Di tempat itu, sembari berharap agar mesin-mesin perang di dalam pagar itu segera angkat kaki, Nako memasang foto sejumlah rekannya yang tewas akibat jatuhnya helikopter militer AS pada 13 Agustus 2004. Helikopter sial itu jatuh tepat di kampus Universitas Internasional Okinawa.

Tapi, Amerika tetaplah Amerika. Negeri adidaya itu selalu saja lebih gemar didengar, dan sulit sekali untuk mendengar. Kendati terpilihnya calon antirelokasi Susume Inamine sebagai wali kota baru Nago jelas menyuarakan suara hati warga kota, Washington tetap keras mendesak pemerintahan Perdana Menteri Yukio Hatoyama untuk mengimplementasikan kesepakatan relokasi.

Padahal, apa sebenarnya yang didapat AS dari Okinawa? Menangkal ancaman dari Tiongkok? Jelas itu sebuah ketakutan yang berlebihan. Tak seperti AS yang mendirikan seribu lebih pangkalan militer di luar negeri, Negeri Panda itu sama sekali tak punya. Tiongkok jauh lebih tertarik menyalip kekuatan ekonomi AS dibandingkan bersaing dalam adu persenjataan.

Maka, tak salah untuk mengamini analisa majalah Foreign Policy: yang didapat AS dari Okinawa dan seribu pangkalan luar negeri mereka lainnya hanyalah sederet dampak negatif. Mulai pemborosan, reputasi yang terkoyak, dan menciptakan musuh-musuh baru.

Di Okinawa, contohnya. Satu dekade sebelum insiden pesawat jatuh di kampus tadi, warga di sana sudah mulai membenci pangkalan AS menyusul pemerkosaan yang dilakukan beberapa tentara yankee terhadap seorang gadis setempat.

Tengok pula ke Vieques, Puerto Riko. Tradisi keseharian warga setempat hancur akibat kehadiran para yankee dalam baju doreng. Dengan menerjunkan serdadu di negara-negara otoriter seperti Uzbekistan, Kyrgiztan, dan Arab Saudi, AS secara tidak langsung juga berarti mendukung pemerintahan yang gemar merepresi warganya dan melanggar hak asasi manusia.

Yang lebih berbahaya lagi, seperti sudah terlihat di Arab Saudi, Yaman, Iraq dan Afghanistan, kehadiran pangkalan AS justru meniupkan kebencian yang pada akhirnya berbuntut pada radikalisme. Dari radikalisme inilah, lahir teroris-teroris yang kemudian menyerang berbagai kepentingan AS. Umar Farouk Abdulmutallab yang gagal mengebom pesawat maskapai AS di langit Detroit adalah contoh teranyar.

Anehnya, dengan segepok dampak negatif seperti itu, AS masih saja mengepakkan sayap ekspansi militer mereka. Padahal, di sebagian besar negara yang mereka tempati, penolakan dari warga setempat selalu terjadi. Tapi toh dalam satu dekade terakhir, jumlah pangkalan AS di luar negeri terus menggelembung.

Hanya polanya yang berubah. Kalau pasca Perang Dunia II dipusatkan di Eropa dan Jepang, kini disebar ke pangkalan-pangkalan yang lebih kecil di semua jengkal bumi. Mulai membangun markas komando di Timur Tengah serta Asia Tengah dan Selatan, memasang satelit pengintai di Australia dan Selandia Baru, hingga mengoperasikan tujuh pangkalan baru di Kolombia, Amerika Selatan.

Total, versi resmi Pentagon alias Kementerian Pertahanan AS, Amerika punya 865 pangkalan militer di luar ke-50 negara bagian plus Washington DC. Tapi, di lapangan jumlahnya bisa mencapai seribu lebih.

Tak heran kalau kemudian Pentagon, seperti dilansir Associated Press pada 13 Januari lalu, mengajukan anggaran sebesar USD 708 miliar (sekitar Rp 6.630 triliun) untuk tahun ini. Itu jumlah pengajuan anggaran Pentagon terbesar sepanjang sejarah. Bagaimana tidak jumbo kalau untuk satu pangkalan di dekat Landsthul, Jerman, saja, dibutuhkan biaya perawatan sebesar USD 3,3 miliar (Rp 30,9 triliun) per tahun. Bayangkan, berapa banyak lapangan pekerjaan yang bisa tercipta untuk warga AS dengan uang sebanyak itu.

Lapangan pekerjaan? Ya, bukankah saat berpidato di depan Kongres Rabu (27/1) lalu, Presiden Obama menegaskan bakal memprioritaskan penciptaan lapangan kerja baru. "Satu dari 10 warga Amerika masih menganggur. Mayoritas bisnis di negeri ini masih tidak aktif. Jadi, saya paham benar kekhawatiran yang Anda (warga AS) rasakan," kata Obama ketika itu.

Kalau memang sedemikian khawatir di dalam negeri, lalu buat apa menghamburkan uang demikian banyak di luar negeri untuk sesuatu yang malah mendatangkan dampak negatif? Ah, kalau saja Amerika lebih mau mendengar! (cak/ttg)