METRO BAUBAU
BAUBAU-Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menyumbang Rp 15 juta untuk pembangunan Masjid Al-Ikhlas. Bantuan Tersebut diberikan langsung Walikota Baubau, MZ Amirul Tamim.
BUTON RAYA
PASARWAJO-Tahun ini Program Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) atau Program Pemberdayaan Petani Melalui Teknologi dan Informasi di Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Buton,
Website Fajar
EKONOMI & BISNIS
Baubau-Ereke Masih Putus
BURANGA-Meski kondisi jalan Maligano-Ereke rusak parah, namun akses tersebut sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Hal ini telah dibuktikan oleh Nurli, warga Kabupaten Muna yang memilih jalur darat ke Ereke menggunakan sepeda motornya, Minggu (29/8).
Website Fajar
OPINI
(Suatu Kebutuhan atau Keinginan)
Oleh : La Ode Muh Anzal Dalam media ini juga edisi (Juma’t 30 Juli 2010) kepala dinas kesehatan Kabupaten Wakatobi telah mengangkat 81 tenaga honor dengan kualifikasi tamatan SMU/sederajat untuk dimagangkan
IKLAN / SIRKULASI
Jalan : Teuku Umar No.3 Baubau
Telp : (0420)2826686
Faks : (0420)2826556
  HALAMAN UTAMA
Rabu, 19 Mar 2008, | 785
Dari Bikini Hingga Selimut
DI tengah riuhnya lalang suporter di Stadion Westfalen, Dortmund, Emma Karlson enak saja jalan dengan tubuh hanya terbungkus selembar bendera Swedia ukuran besar. Wanita 23 tahun asal Stockholm itu dengan penuh percaya diri m Sama sekali tak ada rasa risi, keder, atau takut tergambar di wajah Emma.

’’Mengapa harus takut. Ini kan stadion sepakbola bukan pasar malam,’’ katanya. ’’Lagi pula saya tidak bermaksud memamerkan tubuh. Bagi saya, apa yang saya kenakan merupakan bagian dari ekspresi dukungan kepada Swedia,” lanjutnya.

Intinya, dia tak khawatir ada tangan nakal akan menjahili tubuhnya yang mulus. Dia bahkan berbaur dengan suporter lelaki Swedia dan menyahut ramah siapa saja yang menyapanya.

Sebuah pernyataan dukungan kepada tim kesayangan, itulah kuncinya. Sepakbola, seberapa pun kentalnya dengan aroma nasionalisme, pada akhirnya tetaplah sebuah permainan. Sebuah permainan tentu juga harus disikapi dengan bebas dan santai. ’’Tak perlu ada standar moral segala,’’ ujar Emma.

Selama tidak merugikan orang lain, tampil beda, misalkan dengan berpakaian modis atau seksi seperti Emma, justru akan menambah warna.

Dan, memang warna itu berpendar dengan kuat di hampir setiap Piala Dunia. Hampir semua pertandingan yang digelar, suporter tak hanya berarti kaum laki-laki yang bertelanjang dada, mengenakan kostum atau syal tim kesayangan, dan menyanyikan lagu penggugah semangat.

Selalu ada oase berupa wanita-wanita seperti Emma yang tetap tampil modis, enerjik, dan seksi namun tidak
seronok. Di Stadion Westfalen juga, ada Catherine Svensson yang tampil dengan bikini berwarna ala bendera Swedia. Kesan pertama memang sangat menggoda. Tapi, jika diamati lebih jauh, kesan enerjik sebagai seorang suporter sepakbola tetap terjaga.

Di acara pembukaan Piala Dunia 2006 di Stadion Allianz Arena, Munich, para suporter cantik yang menjaga betul penampilannya juga bertebaran di mana-mana dan berasal dari berbagai bangsa.

Gadis-gadis suporter Brasil bahkan banyak yang tampil lebih modis dan seksi dengan mengenakan rok mini dan kaos yang berdada rendah. Ada juga yang hanya berselimut bendera seperti Emma. Begitu pula dengan para pendukung tim asal Karibia dan Afrika. Bahkan, dalam perjalanan menuju Allianz Arena, seorang suporter wanita Iran mengenakan kaos ketat bertuliskan ’’Iran” di bagian tengah dan bersepatu boot.

’’Seksi itu kan di benak orang saja. Kalau saya sendiri merasa apa yang saya kenakan ini sesuai dengan semangat olahraga yang enerjik,” kata gadis yang mengaku bernama Enif itu.

Bikini, rok mini, kaos ketat dan sepatu boot: semua itu sebenarnya sama saja dengan mereka yang mengenakan kostum ala tim kesayangan, mengecat rambut atau pipi, atau membawa tetabuhan. Mereka semua ingin menikmati sepakbola sebagai sebuah permainan, hanya cara mengekspresikan dukungan saja yang berbeda.  (ttg/jpnn)